Kudatang
Untuk Mengabdi dan Mencerdaskanmu
Inilah
kisah seorang gadis yang punya harapan dan tekad membaja untuk mencerdaskan
anak bangsa. Kisah ini diawali dengan cerita berikut : Di awal tahun 1996, tepatnya
01-01-1996, dua puluh satu tahun yang lalu, Diriku, seorang gadis, kecil
mungil, hitam manis, berambut ikal berusia 26 tahun asal dari Yogyakarta
tepatnya Bawuk Minomartani Ngaglik Sleman Yogyakarta.. Betapa bahagianya
diriku, tak henti hentinya kupanjatkan pada Yang Kuasa, tak disangka dan tak
dinyana, begitu lulus sarjana, kumendapak SK yang banyak dinanti dan diidam-idamkan
banyak orang. Inipun tidak semudah yang dibayangkan. Penuh perjuangan, penuh
tantangan, gejolak hati bergelora. Begitu lulus Oktober 1995, ada pengumuman
lowongan CPNS guru Bahasa Inggris. Dengan sangat antusias, diriku mengikuti
ujian tes CPNS di kawasan Yogyakarta kota tercinta, tes tertulis.
.....Apa daya, diriku tidak diterima,
sementara kawan kuliahku yang bukan orang Yogya, yang KTP nya buat dadakan, dan
maaf... rangking terakhir di kampus, diterima. Dia berhuporia, memberi khabar
kepadaku dan teman-tamanku dengan mengatakan, sekolah tak perlu pintar-pintar
Wulan, yang penting bisa dapat kerja, apapun caranya. Astaghfirullah..... Dengan rasa kecewa, gundah gulana, bergejolak
dalam dada, kutenangkan diri dengan berdoa, mungkin ada yang lebih baik, Allah
lah pembuat skenario terbaik.
Hari demi hari, kubuka koran satu persatu untuk
mencari lowongan kerja. Ketemulah di MTS swasta membutuhkannya. Akhirnya diriku
mengabdi di sana kurang lebih baru 1 bulan. Eee.., ada panggilan dari Dinas
Pendidikan, diriku di panggil untuk mengikuti wawancara, Alhamdulillah.
Pewawancara
bertanya : “Bersediakah saudara untuk ditempatkan tugas mengajar di luar kota Yogyakarta?”
Kujawab
tanpa bimbang dan ragu : “Insyaa Allah, siap ditempatkan di mana pun berada.“
Pewawancara
: “ Oke, tunggu saja panggilan selanjutnya, nanti akan dihubungi.”
Alhamdulillah,
dengan rasa haru dan bahagia, kusampaikan pada orang tua, bahwa masih ada kesempatan
diriku untuk menjadi CPNS di luar kota Yogyakarta.
Hari
berganti, akhirnya ada panggilan lagi. Diriku dinyatakan lulus sebagai CPNS
dengan banyak pertanyaan dari pewawancara, satu yang kuingat :
“Kenapa
anda mau ditempatkan di luar Yogyakarta? Andakan masih single, atau anda patah
hati?”
Kujawab,
“Iya pak, saya masih single, tetapi saya tidak patah hati, dan saya siap di
manapun ditempatkan, asal masih di Indonesia, karena niat saya adalah ingin
mencerdaskan anak bangsa dimanapun berada.” Tak dinyana, pewawancara dengan
mata berlinang langsung menyalamiku dan mengucapkan selamat atas kesediaannya
menjadi guru yang siap mengabdikan dirinya untuk anak bangsa.
Hari
berganti, tibalah saatnya detik-detik menegangkan pengumuman penempatan kerja.
Semalam sebelum pembagian SK, saya bertanya kepada bapak:
“
Pak, kalau ditempatkan di luar Yogya, bahkan luar Jawa gimana?
Apa
kata bapak : “Dimanapun Nduk, tidak apa-apa yang penting masih Indonesia. “Seorang
bapak yang bijak, karena beliau tahu keinginanku tekad bulatku utk mengabdikan
diriku menjadi guru yang ingin mencerdaskan anak bangsa.
Waktu
itu, kami melihat televisi, dan di sana ada berita gempa terjadi di Kerinci,
apa kata bapak. “Asal jangan di di daerah itu ya, Nduk.” Sehari kemudian kuambil
SK pembagian dan kuberikan kepada bapak. Tertera tulisan disana Tempat Kerja
SMA N 2 Muko-muko Utara. Bengkulu.
Kata
bapakku yang bijak : “Yo wis nduk, ora opo. Diterima saja. Bapak merestuimu.
Walaupun jauh, aku ridho Nduk, doa bapak selalu bersamamu, semoga rezekimu
diberkahi Yang Kuasa, niat tulusmu untuk mencerdaskan anak bangsa diberikan
ganjaran yang setimpal oleh Gusti Ingkang Murbeng Dumadi.”.
“Matur
nuwun ,Pak” Aamiin, Alhamdulillah, orang tua sudah restu.
walaupun tidak terbayang oleh ku dimana itu Bengkulu. Setiap saudara yang
ditanya tidak tahu.
Tibalah
saatnya pemberangkatan ke Bengkulu, dengan diantar kakak ipar, akhirnya mereka
melepas diriku dengan tangisan haru, sedih, senang bercampur aduk jadi satu.
Kulambaikan tanganku pada bapak ibu dan keluargaku. Tak terbayang olehku di mana,
kayak apa itu Mukomuko Bengkulu. Sepanjang perjalanan diriku mabuk berat,
mungkin karena psikis yang harus berpisah dengan keluarga besarku. Sepanjang
jalan hanya hutan belantara yang kulihat, akhirnya diriku muntah lagi karena
membayangkan harus tinggal di hutan yang jauh dari pemukiman.
Alhamdulillah
dengan perjuangan yang sangat berat, akhirnya kami tiba di desa SP 6 Air Manjunto
Mukomuko Utara Bengkulu Utara. Desa dengan penduduk campuran, penduduk asli,
tetapi kebanyakan trans Wonogiri. Diriku disambut oleh kepala sekolah yang
sangat baik, yang mempersilahkan saya dan kakak ipar tinggal di rumah dinasnya.
Tibalah
saatnya kudatang dan memasuki gerbang sekolah. Dag dig dug rasa hati tak menentu,
gimana ya anak muridnya, gimana ya gurunya? Alhamdulillah,
diriku disambut dengan hangat oleh bapak ibu guru, murid murid yang ternyata
campuran dari daerah asli dan trans Wonogiri. Bismillah, kumasuki kelas 3, oo lllaaaa laaa, ternyata, umur mereka
hampir sama/tidak beda jauh dariku. Ada oknum siswa yang sengaja menyanyi
sepanjang kuberjalan ke kelas sambil bersiul. : Wulaaaan, kusebut namamu
slalu.....” Waduuuuuh, gimana ini, Mau marah gimana ya? Tidak mungkin ku marah,
kan memang itu lagu. Walaupun sebenarnya mereka mau mengerjaiku dengan menyanyi
lagu wulan. Yang sama dengan namaku.
Bel sudah berbunyi, siswa pun masuk
semua ke kelas. Dengan ogah-ogahan,
ada pula yang cengengesan mereka
masuk ke kelas, ada yang sengaja memandang dengan pandangan menggoda, tapi
tetap aku bersiteguh, kuharus bersahaja dan berwibawa di depan mereka. Hanya kuberi
senyum, kepada mereka yang memang memancing amarah. Akhirnya kumulai buka
pelajaran dengan salam perkenalan dalam bahasa English,..... setelah diriku berkenalan,
giliran tiba saatnya bagi mereka, “Adakah pertanyaan?” Tak satupun dari mereka
berbicara, semuanya diam. Kuulangi lagi “Adakah yang mau menjadi sukarelawan
memperkenalkan diri?”, Tak satupun bersuara dan menunduk semua. Aku bertanya
tanya apa yeng terjadi? Ada apa dengan anak anak ini. Kuharus cari akal agar
anak anak mengeluarkan suara, satu kata jadilah. Olllaaaa llla, ada apa ini,
mereka bungkam, bahkan ada yang menutup mulutnya dengan tangan atau buku. Kuputar
akal, pasti ini ada sesuatu yang tidak beres, pasti ada yaang mau ngerjain
diriku. Akhirnya kuabsen satu persatu, mulai dari yang putri. “Sebut nama dan
alamatmu”. Dengan raut muka takut, mau nangis, akhirnya dia mengeluarkan suara,
kupanggil nama berikutnya untuk berkenalan. Sampai akhirnya semuanya berkenalan
kecuali 1 orang sebut saja namanya Jhon. Dengan berbagai upaya kupancing-pancing
dia agar berbicara. Alhamdulillah,
dia mengeluarkan suara juga walaupun, kata-katanya tidak sesuai dengan yang kuinginkan.
Dia sengaja mengalihkan pembicaraan dengan bilang ibu cantik deh, kita tidak
usah belajar Bu, kita main-main saja. Blaaa blaa blaaa. Akhirnya suasana sudah
mencair, saya bisa mengambil hati mereka, dan keluarlah kata-kata jujur dari
mereka yang mengatakan bahwa mereka diancam oleh Jhon. Awas kalau menjawab
pertanyaan guru. kalau mereka berbicara akan ditinju sepulang sekolah. Aaaaah,
ada ada saja. Alhamdulillah, sukses untuk perkenalan hari pertama dengan kelas
3..
Hari kedua di SP 6 Air Manjunto Mukomuko
Utara, tepatnya di SMA N 2 Muko-muko Utara. Desa sunyi, sepi, hanya bunyi
jangkrik menemaniku. Kutatap langit-langit kamar yang remang-remang karena
memang belum ada listrik, hanya diterangi lampu teplok. Ya Allah Ya Robbi, kuatkan hambaMu ini, yang
jauh-jauh datang ke desa ini untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Lindungilah
dari segala mara bahaya, berilah kemudahan hambaMu ini untuk mentransfer ilmu,
untuk membimbing, mendidik mereka sehingga menjadi anak-anak yang berguna,
berhasil dalam kehidupan dunia dan akhiratnya. Aamiin.
Kudengar suara kokok ayam, waktu
menunjukkan pukul 04.00. Kubangun, mengambil air wudhu, di luar rumah. Dingin,
sepi, gelap, jauh dari tetangga. Kuberanikan diriku keluar rumah untuk menimba
air untuk berwudhu. Aaah, berat, tanganku perih saat menarik timba ember yang
penuh dengan air. Besar sekali embernya, tidak sebanding dengan badan dan
tanganku yang mungil....
Singkat cerita, tibalah saatnya
untuk mengajar di kelas. Kupandangi muridku satu persatu. Satu... dua... tiga...tiga
puluh, kurang satu orang yang belum masuk. “Kemana Hans? Ada yang tahu kemana
Hans, kenapa belum masuk? Sakitkah?. “Tidak tahu kami mam.....” , serentak
mereka menjawab. Okelah, let’s start our lesson by reviewing last lesson. Kumulai
pelajaranku dengan mengulang kembali pelajaran sebelumnya. Sedang
asyik-asyiknya belajar, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki memasuki kelas.
Setelah kulihat ... Ooo Hans. “Dari mana kamu, Hans? Kenapa terlambat?” Hans
diam tanpa mengeluarkan kata-kata. Akhirnya, kunasehati dia, “Yang namanya
murid, yang namanya sekolah itu ada aturannya, masuk jam sekian pulang jam
sekian... Blaa blaa bla.” Kutambahi lagi, “Rambut harus rapi, tidak boleh
gondrong dan harus disisir.” Blaa blaa blaaa. Diriku begitu antusias menasehati
dia, karena kuingin dia berhasil dalam hidupnya. Apa yang terjadi..... ? Hans
mengirimiku sebuah surat dalam bahasa Inggris. Panjang lebar dia menulis yng
intinya, dia tidak terima dengan perlakuanku. Hans mau bebas hidup tanpa
aturan, tanpa harus potong rambut, tanpa harus masuk pagi, maunya sesuka dia.
Dia menuliskan sindiran kepadaku, “Hai ibu cantik turunan Ratu yang berdarah
biru, memang anda cantik, pintar, tapi jangan sok, jangan sekali kali
menasehatiku dengan kata-katamu yang penuh dengan idealis.”Deg..... apa yang
salah denganku? Salahkah jika aku menasehatinya, memberikan gambaran hidup yang
penuh kedisiplinan untuk meraih kesuksesan? Ya Allah, bantu aku membimbing anak
ini, Hans ini sebenarnya anak yang pintar, banyak karyanya yang sudah dia
tulis, kumpulan cerpen dia tulis tangan dan dijilid sehingga menjadi novel.
Kawan-kawannya bergantian membaca novelnya. Apa yang harus kulakukan? Kudekati
dia di kelas dengan harapan dia mau luluh, untuk mengikuti aturan sekolah,
berambut rapi dan datang tidak terlambat. Apa yang terjadi, hari berganti hari
tidak ada perubahan sikapnya. Hingga kuputuskan, biarlah dia masuk sesuka
hatinya, asal saat belajar, dia tidak mengganggu kawan-kawannya. Dan dia
belajar seperti yang lainnya, urusan terlambat kuserahkan guru piket. Hari
berganti hari hingga suatu hari saat mengajar di kelas yang sama. Jam belajar
sudah mau usai, tetapi Hans tidak muncul juga. Kutanya kepada kawannya, tidak
tahu. Itu berlangsung lama, dan ternyata ada yang mengatakan Hans keluar, tidak
mau sekolah lagi. Dia tidak tahan dengan aturan sekolah, dia mau bebas sesuka
hatinya kapan masuk dan kapan keluar kelas, dia mau bebas mau rambut gembel
atau gondrong, dia tidak mau di atur. Kucoba bujuk dia, untuk menyelesaikan
studinya yang hanya kurang satu atau dua bulan lagi. Tetap dia tidak mau. Oh
Tuhan yang Kuasa, ... bantu hamba. Tapi
akhirnya segala usaha dari pihak sekolah membujuknya untuk sekolah, tapi tetap
tidak mau. Dia maunya di ladang, sambil menggembala kambingnya, dia bebas berekspresi
mengungkapkan perasaannya dalam goresan-goresan tintanya. Kubujuk lagi “Hans,
selesaikanlah sekolah hingga dapat ijazah, habis itu, silahkan turuti apa kata
hatimu,” tetap saja dia tidak mau. Ya ... sudahlah dengan rasa kehilangan yang
amat sangat, kurelakan dia dengan keputusannya. Hans anak yang pintar, suka
menuangkan ide-ide dan hayalannya dalam goresan tintanya. Dan banyak karya yang
dihasilkannya di atas kertas buram dan ditulis tangan. Walau begitu,
kawan-kawannya berebut ingin membaca novel tulisan tangannya yang tulisannya
kayak ceker ayam. Tetapi kawan-kawannya tetap suka membaca, karena
karya-karyanya memang sangat bagus.
Duh Gusti Allah.... tidak
berhasilkah hamba-Mu ini dalam misi mencerdaskan anak bangsa? Gugur satu
harapan anak bangsa menamatkan SMA.. Hans, ... sampai kini dirimu jadi motivasi
diriku untuk menjadikan peserta didikku berhasil dari segi akademik, non
akademik, dari segi formal di atas kertas dari segi emotional dan spiritual.
Masa SMA adalah masa bagi peserta didikku mencari jati diri, tugasku
mengarahkannya agar tidak terjerumus dalam dunia yang penuh fata morgana.
Hingga, pada suatu hari, ada
seseorang meneleponku. Siapakah
gerangan...
“Selamat
pagi Buk, Apa kabar? Sehat kan Buk? Blaaa.. blaa.blaa.
“Ini
siapa yaaa?. Ya Allah.... Hans.“ Hans mengucap kata maaf untukku, karena tidak
menuruti kata-kataku... Aku jawab kepadanya, ibu yang minta maaf, terlalu
idealis yang sanggat menggebu menginginkan Hans jadi anak yang disiplin rapi,
blaablabla. Ya Allah,... lega hatiku, bisa menyambung lagi tali silaturahim
yang terputus puluhan tahun dengan peserta didikku di SMA N 2 Muko-muko Utara
yang selama tiga tahun aku mengabdi
disana, Mulai 1999 – sampai sekarang diriku mengabdi di SMA N 1 Argamakmur..
Hal pertama yang kutanya padanya. Apakah masih suka menulis? Sudahkah tulisan-tulsannya
dikirim kepada penerbit. Ooh Hans, dirimu memiliki multi talenta, sangat mahir
dalam tulis menulis, ayo maksimalkan lagi bakatmu, jangan pernah berhenti..
walaupun kamu tidak lulus SMA karena keegoisanmu... dan rasa gengsimu yang
tidak mau menerima saran orang lain. Kutunggu karya-karyamu. Semoga dirimu
senantiasa dalam lindungan-Nya.
Banyak pelajaran yang kudapat di
tempat kerja pertamaku SMA N 2 Muko-muko Utara, di sanalah diriku ditempa untuk
berjuang, mencerdaskan anak bangsa di penghujung desa, banyak anak cerdas dan berbakat di sana,
tetapi karena beban keluarga, dimana harus membantu orang tua akhirnya putus sekolah.
Jangan pernah berhenti berusaha, raih cita-cita, tempaan hidup yang beratlah
yang membuat kita kuat menjalani hidup,
Jangan pernah mengeluh dengan keadaan ynng tidak sesuai dengan yang kita
harapkan. Untuk peserta didikku di SMA N 1 Argamakmur, jadilah anak yang selalu
bersyukur, maksimalkan potensi dan sarana yang ada untuk menggapai cita cita.
Jadilah orang yang cerdas, orang yang pintar bukan hanya intelektual, tapi
seimbangkan dengan emosional dan spiritual. Salam penuh cinta dan sayang dari gurumu
buat anak-anakku SMA N 2 Muko-muko Utara dan SMA N 1 Argamakmur.
Kubanyak bersyukur, kubangga menjadi
seorang abdi untuk mendidik dan membimbingmu. Banyak pelajaran yang kudapat
selama aku menjadi guru. Proses pendewasaanku, dari mula pertama yang belum
tahu apa-apa, dengan kejadian selama bersama anak-anak didikku menjadikanku
harus lebih bijak dalam menyikapi segala hal. Banyak bekal yang kudapat setelah
menjadi abdi dalam pendidikan selama 21 tahun. Semoga, Allah memberkahi
langkah-langkahku dan mengampuni segala dosaku, Aamiin
Terbit
dalam buku antologi Pengalaman Pertama Menjadi Guru
Cetak
pertama, November 2017
Soega
Publishing

Komentar
Posting Komentar